Via Vallen, Pola Tiga Bek, dan Leonardo Bonucci

Via Vallen, PolaVia Vallen, Pola Tiga Bek, serta Leonardo Bonucci

Dara bagus berdasarkan Sidoarjo bernama Maulidia Octavia sedang mengundang kekaguman kalangan remaja tanah air. Bagaimana tidak, perempuan kelahiran 1 Oktober 1990 ini mendongkrak kembali belantika musik dangdut Indonesia memakai terobosan-terobosan baru. Persepsi negatif terhadap aliran dangdut yang selama ini disebut kampungan atau ketinggalan jaman mulai mengambarkan kembali pamornya memakai tampilan lebih segar serta kekinian berkat kehadiran perempuan bagus memakai nama panggung Via Vallen itu.

Via Vallen belia merupakan penikmat sekaligus penyanyi pop. Rentetan musik serta grup luar negeri macam Evanescence sampai Avril Lavigne jadi pengiring bagaimana seorang Via tumbuh saat itu. Bahkan, nama panggung Vallen berawal berdasarkan plesetan lagu Evanescence yang berjudul Fallen. Namun, apa yang menghasilkan Via banting setir menjadi musisi dangdut? Adalah Muhamad Arifin yang membarui aliran bernyanyi Via.

Dimana orang tadi merupakan ayah daripada Via Vallen, sang ayah yang juga merupakan seorang gitaris orkes melayu tidak sporadis membawa Via saat manggung di banyak sekali tempat. Secara tidak langsung, aktivitas tadi membarui pola pikir penyanyi yang sukses di album Selingkuh itu. Pada akhirnya, keputusan Via berbuah manis, Ia begitu dikenal luas oleh warga berdasarkan banyak sekali kalangan di tanah air.

Selaras memakai suaranya yang merdu, penampilannya pun tidak menarasikan seorang penyanyi dangdut. Ia berpenampilan lebih modis ala Korea. Dalam aksi panggungnya Via lebih tidak sporadis membawakan cover lagu berdasarkan musisi kekinian tanah air juga luar negeri. Lagu-lagu macam Ku Tak Bisa gubahan grup band Slank dibawakan secara koplo, pun memakai lagu bergenre Regge berdasarkan Souljah berjudul Kuingin Kau Mati Saja, serta banyak lagi lagu lainnya yang di adopsi menjadi aliran dangdut koplo. Agaknya terobosan itu yang menghasilkan para anak belia mulai menerima kembali musik dangdut.

Selain tidak sporadis mengcover lagu masa kini Via juga membawakan beberapa lagu berbahasa Jawa. Meski begitu, lagu yang dibawakan permanen bisa diterima oleh banyak sekali etnis. Termasuk etnis Sunda, etnis Betawi, serta lainnya. Karena itulah musik dangdut kini tidak segan memasuki sekolah-sekolah sampai kampus-kampus tanah air.

* * *

Dunia sepakbola pun mengalami sedikit pergeseran pola permainan animo ini, tidak ubahnya musik dangdut yang mulai diterima kembali oleh warga, pola 3 bek yang mulai sporadis dipergunakan oleh klub-klub top Eropa kini mulai bergeliat kembali diadopsi oleh beberapa pelatih termasuk mereka yang manggung di Liga Primer Inggris. Menjadi sebuah kejelasan ketika di Liga Italia memakai pola 3 bek merupakan hal yang biasa alasannya adalah memang tradisi sepakbola klasik masih terkandung disana.

Jauh sebelum Antonio Conte membawa pola 3-4-3 ke London Biru (baca: Chelsea), Louis van Gaal sudah lebih dulu memakai pola 3-4-1-2 memakai Manchester United. Lebih jauh lagi, saat Brazil menjuarai Piala Dunia 2002, pelatih Phil Scolari menempatkan Roberto Carlos serta Marcos Cafu sebagai penopang pola 3 bek.

Sebetulnya gugusan 3 bek ini akan lebih efektif jika dipergunakan saat meladeni tim yang menerapkan pola 4-4-2.Idealnya, dua bek akan menjaga dua penyerang lawan,ad interim satu bek lagi akan bertugas menyapu bola berdasarkan belakang. Kita bisa menarik kesimpulan dini berdasarkan pernyataan diatas, mengapa Juve bisa menguasai Seri A 3 tahun beruntun memakai Antonio Conte? Jawabannya sederhana: alasannya adalah disana banyak yang memakai pola dua penyerang memakai 3-lima-2, 4-4-2, juga memakai lima-3-2.

Sebetulnya Conte pun menerapkan gugusan 3-lima-2, kenapa Ia bisa lebih baik berdasarkan tim lain yang memakai gugusan sama? Karena kualitas pemain yang dimilikki Juve lebih baik berdasarkan tim lain. Bagaimana pola 3 bek Conte memakai Chelsea animo ini? sebenarnya tidak jauh tidak selaras, modul klasik tadi bisa berjalan memakai baik alasannya adalah ditopang pemain yang berkualitas.

Kita ungkap sedikit tabir dibalik penggunaan gugusan 3-4-3 ala Conte animo ini di Chelsea. Tim baru memakai gugusan 3-4-3 disaat menyerang, sedangkan ketika bertahan tim bertransisi menumpuk pemain bertahan menjadi lima-4-1 memakai memanggil para wingback buat menjaga area pertahanan. Satu syarat pokok yang harus dipenuhi dalam penggunaan pola 3 bek ini yakni tim harus mempunyai seorang ball-playing defender.

Seorang bek yang benar-benar nyaman memakai bola, yang bisa memainkan umpan saksama ke sisi lapangan, serta yang sanggup melebar juga. Hal ini sangat penting, mengingat pola klasik 3 bek ini sangat menekankan bahwa pertahanan merupakan kunci. Poros permainan tim berada di area pertahanan, merekalah (para bek) yang memainkan tempo permainan. Conte mempercayai David Luiz buat melakukan tugas tadi.

Dan keberhasilan Conte di Chelsea mengundang kembali pola klasik yang dulu tidak digemari manajer akbar di liga top Eropa. Kini, Arsene Wenger (Arsenal), Mauricio Pocchetino (Totenham), sampai Jose Mourinho (MU) pun menerapkan pola jadul itu. Terbukti, di jelang penutupan Liga Primer mereka bisa memperbaiki posisi klasemen memakai cara tadi. Bahkan, The Special One berhasil menembus final Liga Eropa memakai pola 3 bek.

***

Sejurus memakai pola 3 bek, Leonardo Bonnucci merupakan ball-playing defender terbaik di global saat ini. Selepas Juve ditinggal sang maestro, Andrea Pirlo, muncul sedikit kehkhawatiran siapa penerus nomor punggung 21 itu yang ciamik mengatur serangan. Alih-alih Sami Khedira yang dinobatkan sebagai penerus Pirlo, komando serangan di wariskan kepada Bonucci. Ia bertugas sebagai bek sekaligus playmaker, sebuah tugas ganda yang kini mulai ngetren di Eropa.

Saat ini, kesebelasan-kesebelasan akbar di Eropa sangat membutuhkan pemain bertahan yang fasih mengatur serangan. Hal ini diharapkan supaya tim tidak gampang kehilangan bola saat mendapatkan tekanan berdasarkan lawan, apalagi di sepertiga area pertahanan. Pemain bertahan terbaru dituntut buat bisa melancarkan operan efektif, tidak hanya berdasarkan oper bola atau buang bola jauh-jauh.

Bahkan Guardiola mengakui kehebatan Bonucci sebagai bek terbaru. Eks pemain Bari itu dijadikannya sebagai bek favorit Guardiola. Bagi pelatih yang menuhankan dominasi bola ini, mau tidak mau, senang tidak senang, berdasarkan pemain yang berposisi penyerang, gelandang, bek, sampai kiper pun harus bisa memeragakan ball playing. Ketika di Barca Ia harus mengorbankan gelandang buat dijadikan seorang bek dalam memenuhi kebutuhan dominasi bola berdasarkan belakang. Sebut saja korbannya Javier Mascherano (Barcelona) serta Javi Martinez (Bayern Munchen).

Maka berdasarkan itu, pemain misalnya Leonardo Bonucci sulit ditemukan di tim lain alias langka. Defensive-Playmaker murni macam dia selalu didambakan oleh pelatih manapun. Dan Bonucci sudah membarui perspektif seorang bek yang melulu soal bertahan serta mengamankan area pertahanan menjadi lebih terbaru memakai cara melakukan tugasnya memakai baik sebagai ball-playing defender. Sama misalnya Via Vallen yang bisa mengangkat kembali pamor dangdut, atau pola 3 bek yang dulunya disebut menjurus ke parkir bus (membosankan) bisa kembali membumi di liga top Eropa hari ini, Leonardo Bonnucci pun merupakan keliru satu revolusioner di bidangnya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *