Via Vallen, Pilkada serta Dilema Media

Via Vallen, Pilkada serta Dilema MediaVia Vallen, Pilkada serta Dilema Media

Saat ini siapa yang tidak memahami Via Vallen, artis dangdut koplo yang lagu-lagunya sangat  akrab pada telinga masyarajat baik yang tinggal pada daerah pedesaan maupun yang ada pada kota-kota akbar. Tidak hanya kalangan rakyat bawah yang notabene identik  dengan pecinta musik dangdut, kalangan menengah atas pun larut dengan hipnotis nada serta lirik-lirik nakal Via Vallen.

Musik dangdut koplo semakin berkibar tatkala ada lagi artis yang belakangan juga menjadi idola rakyat, yakni Nella Kharisma.

Kedua artis tersebut selalu menghiasai media baik cetak, elektronik, maupun media online. Masalah ada ketika artis artis tersebut dihadapkan dengan media ketika animo pilkada tiba.

Kampanye Pilkada Serentak 2018 memang baru akan dimulai 15 Februari mendatang, namun ancaman bagi dilema media sudah tampak terang serta konkret.

Satu sisi media dituntut memegang idealisme dalam memainkan kiprah sebagai sarana pendidikan politik bagi pembaca agar semakin mempunyai sikap kritis serta kedalaman berfikir. Namun sisi lainnya, media dihadapkan pada pragmatisme ekonomi yang memaksa media mengadopsi akal yang bertumpu pada spektakuler, sensasional, serta superfisial.

Kekhawatiran ada ketika Via Vallen serta Nella Kharisma secara resmi digaet galat satu pasangan cagub serta cawagub Provinsi Jawa Timur, Gus Ipul serta Puti buat selanjutnya akan menjadi indera kampanye.

Pasalnya media mempunyai kecenderungan lebih banyak mengupas artis tersebut buat disampaikan ke rakyat. Sedangkan program maupun gagasan cagub serta cawagub justru tidak menjadi prioritas buat dikabarkan ke rakyat. Padahal media dibutuhkan juga berperan dalam pendidikan politik agar pemilih mempunyai kematangan dalam memakai hak politiknya.

Seperti yang disampaikan ahli etika komunikasi, Haryatmoko, bahwa media sangat dibutuhkan bisa menaikkan mutu debat publik, tetapi justru mengganti politik menjadi tontonan. Kecenderungan ini tampak menggejala pada ketika kampanye Pilkada dengan pengerahan artis serta penyelenggaraan berbagai hiburan dengan melibatkan massa.

Sebenarnya belum tentu calon yang memakai jasa artis buat indera kampanye mempunyai program yang tidak mengagumkan, namun kecenderungan media yang mengganti politik sebagai tontotanlah yang kemudian program berdasarkan calon tidak tersampaikan ke rakyat.

Tidak hanya artis, media juga tidak jarang mengakibatkan tokoh buat dijadikan tontotan dalam politik pilkada. Dimana bukan gagasan atau pemikiran berdasarkan tokoh tersebut yang disampaikan media buat kemajuan daerah pribadi, akan tetapi hanya seputar ketokohannya yang disampaikan.

Selain pada Jawa Timur, pada Jawa Barat galat satu calon juga sudah memastikan akan memakai jasa artis prominen Ahmad Dhani buat dijadikan indera kampanye.

Di Jawa Barat bahkan banyak artis yang bisa jadi akan menjadi indera kampanye galat satu calon seperti Desi Ratnasari serta artis lainnya.

Bagaimana pada Jawa Tengah, tentu hal serupa juga tidak bisa dihindarkan. Dimana artis maupun tokoh akan dijadikan indera kampanye calon buat meraih kemenangan dalam permasalahan politik Pilkada 2018.

Bika seluruh media mengalami dilema serta kemudian terkalahkan dengan mengganti politik sebagai sebuah tontonan, maka idealisme media betul-betul sudah tewas.

Padahal media mempunyai kiprah yang sangat akbar dalam menyampaikan pendidikan politik bagi rakyat. Media sebenarnya juga menjadi galat satu harapan rakyat buat berperan dalam pendidikan politik, ketika partai politik sendiri sudah lalai akan fungsi pendidikan politik ketika kampanye tiba.

Pemanfaatan artis maupun tokoh buat indera kampanye sebenarnya sudah biasa dilakukan semenjak orde baru. Namun bersamaan dengan perkembangan jaman, media seharusnya bisa semakin dewasa dalam menyikapinya.

Revolusi teknologi isu memang melahirkan akal waktu pendek yang hanya mementingkan keuntungan semata. Namun dibutuhkan akal waktu pendek tidak memberangus idealisme media dalam memainkan fungsi pendidikan.

Harapan agar media tidak hanya mengakibatkan politik sebagai sebuah tontonan patut disampaikan ketika tahapan kampanye Pilkada belum dimulai. Sehingga ketika kampanye nanti media menyampaikan porsi yang akbar dalam menyampaikan pendidikan politik bagi pemilih.

Bika itu dilakukan, maka media akan ikut berkontribusi akbar dalam melahirkan pemimpin – pemimpin daerah yang mempunyai kapabilitas serta berkualitas. Terutama pemimpin pada Jawa Barat, Jawa Tengah, serta Jawa Timur yang ketiganya tergolong daerah krusial dalam pembangunan peradaban bangsa Indonesia.

* Penulis merupakan mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Undip serta Ketua Kelompok Kajian Kebijakan Media (K3M)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *