Via Vallen, Nella Kharisma & Disrupsi Dangdut Koplo

Via Vallen, Nella Kharisma & Disrupsi Dangdut KoploVia Vallen, Nella Kharisma & Disrupsi Dangdut Koplo

KOMPAS.com – Dalam beberapa kali perjalanan naik bus Antar-Kota Antar-Provinsi (AKAP) Rosalia Indah dari kampung  aku kepada Jawa Timur menuju ke Jakarta beberapa waktu kemudian, awak bus hampir selalu menyuguhkan lagu-lagu koplo.

Grup dangdut mirip New Pallapa, Monata pimpinan Cak Sodiq, Sagita dan grup-grup lainnya, selalu dputar sepanjang perjalanan.

Dalam VCD yg diputar awak bus, aku juga melihat penampilan para seniman dangdut jawa timuran itu. Ratna Antika, Wiwik Sagita, Nella Kharisma, Rena KDI, Via Vallen dan yg lainnya. Iki sapa maneh penyanyine?…. batin aku waktu itu.

Saya sendiri tidak begitu hirau beserta musik-musik itu. Selain kuping aku yg kurang terbiasa beserta lagu-lagu yg dibawakan, bermain ponsel mungkin jauh lebih menarik ketimbang menonton dangdut yg diputar. Lihat media sosial, baca-baca artikel info sampai mengikuti diskusi kepada grup WhatsApp.

Namun beberapa bulan ini tiba-tiba diskusi mengenai dangdut koplo begitu ramainya kepada media sosial. Siapa lagi kalau bukan karena Via Vallen & Nella Kharisma. Hingga kuping aku paksa mendengarkan musik-musik itu.

Lewat Youtube, aku pertama kali memutar Sayang yg dibawakan Via Vallen lebih kurang tiga bulan kemudian. Satu, dua kali aku putar. Lama-lama kecanduan.

Kemudian aku juga menjajal Jaran Goyang yg dinyanyikan Nella Kharisma. Tak kalah asyiknya. Dan, lagu itu sampai sekarang tidak pernah aku lewatkan sehari pun buat didengarkan.

Tahap kedua, aku memberanikan diri melihat video klip mereka sampai tuntas. Tidak mirip yg aku bayangkan sebelumnya, mereka tampil elegan. Sopan & tidak lebay.

Selain itu, dua penyanyi ini juga relatif bersih dari cerita-cerita miring yg akrab beserta para seniman. Bagi konsumen hiburan yg berakibat moral menjadi pertimbangan utama, hal ini tentu menjadi nilai tambah tersendiri.

Hingga akhirnya aku memantapkan diri buat memasang lagu keduanya dalam playlistlagu yg aku putar.

Ya, dangdut koplo boleh dibilang merangsek naik kelas. Lewat keduanya, musik dangdut menyapa kalangan yg selama ini belum akrab beserta jenis musik tersebut. Koplo juga berjajar beserta aliran pop yg dibawakan seniman papan atas nasional.

Coba tengok kepada Youtube. Sayang & Jaran Goyang,kepada pekan pertama Januari 2018 berhasil meraih viewers kepada atas 120 juta. Sementara, sebagian besar lagu-lagu bergenre pop yg populer mendulang penonton kurang dari 100 juta.

Inovasi Disruptif

It doesnt matter what you made, or see, or offer. If you continue to embrace business as usual, you are doomed, demikian celoteh Alexander Osterwalder (2010).

Menjalankan perjuangan beserta cara-cara yg biasa, entah cepat atau lambat, akan ditinggalkan oleh konsumen. Bagaimanapun, konsumen akan mencari produk yg lebih baik dari yg sudah ada sebelumnya.

Mereka mencari produk-produk baru & sejalan beserta isu terkini yg ada. Yakni produk yg kualitasnya lebih baik & bisa menutup kekurangan dari produk yg sudah ada.

Dalam konteks global hiburan kita bisa melihat bagaimana dangdut koplo yg dibawakan oleh Via Vallen & Nella Kharisma dibawakan beserta santai, tidak vulgar, & penyanyinya berdandan modis mirip seniman-seniman Korea. Inilah memproduksi konsumen hiburan begitu tergila-gila.

Pada waktu yg sama, Via Vallen & Nella Kharisma juga berhasil menggeser seniman-seniman dangdut incumbent yg lebih dulu mengorbit. Di mana sebagian dari mereka lebih dikenal publik karena info-info gosip ketimbang karya yg dibawakan. Ada juga yg terkenal karena penampilannya yg terlalu mencolok mata.

Konsumen sebenarnya tetap ingin terhibur. Tapi mereka sudah bosan, capek & jengah beserta seniman-seniman dangdut yg lebih senang mengumbar kontroversi. Kehadiran Via Vallen & Nella Kharisma kemudian menjadi pengobat dahaga itu.

Menggunakan saluran digital mirip Youtube, aliran musik ini tidak hanya meraup pasar yg sudah eksisting, akan tetapi juga membangun pasar baru.

Kelas menengah yg selera musiknya mungkin tidak begitu terperinci, akhirnya masuk dalam daftar penggemar dangdut koplo.

Teman-sahabat aku yg hobi nonton konser seniman-seniman luar negeri, belakangan tertarik juga memutar lagu dari Via Vallen & Nella Kharisma. Bahkan anak-anak juga hapal beserta lirik lagu yg dibawakan Via Vallen & Nella Kharisma tersebut.

Lagu koplo dari dua penyanyi ini terus direproduksi beserta banyak sekali versi. Aika ada yg kurang sreg, dibuatlah versi lainnya. Ada yg memproduksi cover beserta iringan piano, sampai versi reggae. Semakin banyak direproduksi, lagu tersebut makin menjawab kehendak konsumen. Dan hasilnya menjadi luar biasa!

Sektor Lain

Inilah dangdut koplo, yg belakangan ini berhasil mendobrak industri musik Indonesia beserta segenap pembaruannya. Dengan banyak sekali kenyataan yg mengiringi kehadirannya, tidak berlebihan kiranya dikatakan bahwa koplo sudah melakukan disruption kepada salah satu sektor industri kepada Indonesia.

Berbicara mengenai disrupsi,  selain memunculkan pemain-pemain baru, disrupsi juga menyebabkan korban. Korban yg dimaksud artinya pihak-pihak yg ditinggalkan konsumen karena mereka tidak melakukan perubahan sama sekali.

Mengutip Rhenald Kasali (2017), disrupsi  terjadi kepada banyak sekali bidang kehidupan. Saling kait-mengait, baik pemerintahan, politik, sampai sosial. Hal ini kemudian memunculkan turbulensi. Dan yg berbahaya dari syarat ini bukanlah turbulensi itu sendiri, melainkan mereka yg bertindak beserta yesterdays logic.

Mereka yg masih menggunakan pola pikir lama, hampir dipastikan menjadi korban dari disrupsi yg terjadi. Tak hanya kepada sektor hiburan, akan tetapi juga kepada sektor lainnya.

Di ranah industri yg lebih luas, kita bisa melihat begitu banyak perusahaan yg kelimpungan karena ditinggalkan konsumennya waktu hadir produk baru yg jauh lebih baik & beserta harga lebih murah.

Seperti yg terjadi kepada isu terkini penggunaan transportasi kepada Jakarta belakangan ini. Mungkin bisa dikatakan waktu ini ojek online menjadi pilihan banyak orang ketimbang angkot ataupun ojek pangkalan. Selain mudah dalam hal pemesanannya, ada standard tarif yg dikenakan kepada konsumen.

Inilah yg dianggap oleh Clayton Christensen (1997) bahwa disrupsi menggantikan pasar lama beserta suatu kebaruan yg lebih efisien & menyeluruh.

Termasuk dalam global politik. Akan sangat mungkin disrupsi akan merambah ranah tersebut buat menggantikan pola-pola transaksional yg tidak dikehendaki publik.

Partai politik yg masih menerapkan pola-pola lama mirip mengusung calon yg tidak kompeten sampai proses politik berbiaya tinggi, bersiaplah menjadi korban dari disruption.

Seperti penggemar dangdut yg sudah tidak berselera beserta seniman-seniman sensasional, dalam global politik isu terkini ini sudah menggejala.

Bagaimanapun, melakukan inovasi & perbaikan merupakan sebuah keharusan bagi banyak sekali entitas–mulai dari korporasi lembaga pemerintahan sampai partai politik–supaya eksistensi mereka tetap relevan kepada zaman yg tidak lagi berjalan linier mirip waktu ini.

Karenanya, entitas-entitas itu kiranya bisa belajar ke Via Vallen & Nella Kharisma wacana bagaimana memenangkan persaingan & membaca selera pasar supaya bisa eksis kepada tengah perubahan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *